LUKA RADIASI

Oleh Ners, I Made Sukma Wijaya, S.Kep,CWCC

Dharma Mulia Care (Dhalia Care) 2011


PENDAHULUAN

Radioterapi adalah pengobatan yang terutama ditujukan untuk keganasan dengan menggunakan sinar pengion2. Radioterapi bekerja dengan cara menghancurkan DNA di dalam sel kanker, mencegah sel tersebut bereproduksi dan mengecilkan tumor. Sel normal juga akan dipengaruhi oleh radioterapi tetapi sel normal dapat memperbaiki dirinya sendiri lebih baik3. Radioterapi digunakan pada penderita kanker oleh karena beberapa alasan, antara lain3;

  • Untuk diagnosis awal kanker, misalnya; kanker kulit, servik, prostat, pulmonal, tiroid dan otak.
  • Mengurangi ukuran kanker sebelum pembedahan (neo adjuvant treatment)
  • Menyakinkan sel kanker hancur setelah operasi dan mengatasi penyebaran local sel kanker (adjunvant treatment)
  • Tindakan emergensi pada kanker yang menekal spinal cord, untuk mengurangi ukuran kanker dan mencegah kerusakan saraf
  • Pada kanker lanjut untuk menurunkan perjalanan penyakit dan menurunkan nyeri dan gejala lainnya.

Gambar 1. Alat Radioterapi3

LUKA TERAPI RADIASI

Terapi radiasi merupakan tindakan paling umum yang dilakukan untuk mengatasi kanker, kira-kira setengah dari pasien kanker menerima terapi radiasi sebagai intervensi primer, tambahan atau paliatif. Walaupun teknik dan teknologi untuk radioterapi sudah meningkat reaksi kulit dan komplikasi berkelanjutan menjadi masalah bagi pasien (Wells & Macbride, 2003)1. Managemen untuk reaksi kulit akibat radioterapi untuk saat ini belum ada ketetapan dengan tujuan dari standar keperawatan.

PENYEBAB

Ion-ion radiasi menghasilkan radikal bebas dan intermediet reaktif oksigen dapat menghancurkan komponen sel termasuk  sel DNA, padahal efek dari terapi radiasi tersebut tidak akan dapat membatasi penyebaran sel kanker, tetapi efek radiasi tersebut secara cepat akan mempengaruhi jaringan-jaringan yang berpoliferasi misalnya mukosa intestinal, sumsum tulang, dan kulit. Pada kulit efek tersebut akan menyebabkan pemisahan sel (keratinosit), folikel rambut dan kelenjar sebasea yang sensitife terhadap radioterapi. Sebagai tambahannya teknik radiosensitasi memperkuat efek radiasi pada jaringan normal dan kanker(Camidge & Price, 2001)1.

TANDA GEJALA

Secara klinis kulit teritasi akan terlihat kering akibat kerusakan dari kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Pada kulit akan tejadi penurunan elastisitas akibat atropi dan fibrosis, dan telangiektasia (vena laba-laba adalah pembuluh darah yang membesar dan tampak seperti garis pendek berwarna kemerahan atau kebiruan, gugusan “ledakan bintang” atau garis simpang siur seperti jarring) dan perubahan warna terjadi pada kulit tersebut dengan disertai juga kehilangan rambut. Ketika kulit menrima dosis radiasi secara signifikan akan terjadi sebuah reaksi yang berkembang dari eritema menjadi diskuamosa kering kemudian diskuamosa lembab. Komplikasi tambahan dapat berupa ulcerasi, nekrosis, deformitas kuku, tumor maligna dan limfadema yang disebabkan oleh fibrosis kelenjar  limfa.  Menurut Bruner & McGinn-Byer (1993), mendiskripsikan reaksi dari terapi radiasi menjadi empat stadium pada tabel 11.

Tabel 1. Stadium Luka Radioterapi

Stadium Definisi Gejala klinis
I Inflamasi dan edema ringan Berwarna merah muda dan kehitam-hitaman, edema ringan, terasa panas, gatal dan nyeri ringan
II Deskuamasi kering Lapisan epidermis hilang sebagian, kering, gatal, bersisik, hiperpigmentasi
III Deskuamasi lembab dan panas Terbentuk vesikel dan  lepuahn, saraf terpapar dan menjadi nyeri, eksudat serous
IV Epilation (kehilangan rambut) dan penekanan kelenjar keringat Perubahan pigmentasi, kehilangan rambut permanen, atropi dan ulserasi

Kerusakan kulit yang timbul pada pasien yang mendapatkan radioterapi dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) menurut waktu timbulnya kerusakan (Walden, 1989; Archhambeau, 1987)4, yaitu;

1.    Periode Awal; efek radiasi segera terjadi dalam waktu 70-120 hari setelah terpapar radiasi dengan kerusakan berupa eritema (kulit berwarna kemerahan), deskuamasi (kulit terkelupas) kering dan basah.

2.    Periode Akhir; efek tertunda yang terjadi dalam waktu 4-6 bulan sampai beberapa tahun berupa atropi (pengerasan kulit) pada epidermis dan dermis, telangiektasia, fibrosis dan nekrosis kulit

Gambar 2.   Luka post radioterapi selama 1 tahun di bagian lumbal pada penderita kanker servik (periode akhir; terdapat atropi/pengerasan kulit, telangiektasia, fibrosis dan slough)

PENATALAKSANAAN

Tujuan perawatan pada luka radiasi adalah mencegah, menghidrasi, dan pemilihan topical untuk kulit yang rusak. Berikut perawatan yang dapat dilakukan pada luka radiasi sesuai dengan stadium lukanya (1);

Tujuan Perawatan Intervensi
Pada semua pasien yang mengalami luka radiasi
Mencegah cedera atau trauma pada daerah radiasi
  • Meningkatkan kebersihan kulit dan hidrasi
  • Rekomendasikan pakaian yang tidak melekat dan longgar untuk kenyamanan
  • Mencegah kerusakan kulit dan infeksi
  • Hindari bahan iritan; produk topical yang mengandung parfum, alcohol atau astringent, atau deodorant, bahan yang mengandung mekanikal seperti perhiasan, bahan lengket dan produk yang sulit dilepaskan
  • Gunakan pisau cukur elektrik jika perlu
  • Hindari panas yang ekstrem (alas panas, bak air panas, sun lamps dan lainnya)
  • Hindari dingin yang ekstrem (ice packs)
  • Lindungi kulit dari paparan langsung sinar matahari dan angin
  • Hindari berenang di kolam yang mengandung chlorine
  • Hindari produk kulit yang berinteraksi negative pada tindakan terapi radiasi
Pada pasien yang mengalami luka radiasi stadium I dan II
Meningkatkan kebersihan kulit
  • Gunakan pembersih kulit yang lembut dan non alkaline
  • Bersihkan kulit dengan pembersih menggunakan tangan atau washlap kemudian bilas dengan bersih
  • Gunakan shampoo tanpa mengandung obat
Meningkatkan kenyamanan
  • Pertahankan hidrasi kulit. Gunakan pelembab 2-3 kali per hari
  • Berikan lotion/pelembab dengan lembut dengan tangan bersih dan jangan menggosoknya
  • Hindari produk petroleum dan gunakan hanya produk hydrophobic dan mengandung alphahydroxy acids (AHA)
  • Mengurangi gatal-gatal dengan bedak/powder jika area kulit kering dan hindari bedak pada area kulit lembab seperti di lipatan payudara dan lainnya.
Mengurangi inflamasi
  • Mengurangi pruritus dan inflamasi
  • Menggunakan sedikit krim kortikosteroid (hidrokortison krim 1%)
Mencegah trauma pada area tindakan
  • Minimalkan gesekan dan iritasi
  • Gunakan pelembab
  • Hindari penggunaan bubuk bedak setiap waktu
Pada pasien yang mengalami luka radiasi stadium II dan IV
Meningkatkan kebersihan kulit
  • Gunakan air matang atau normal salin untuk membersihkan luka
  • Berikan kompres normal salin
Mempertahankan prinsip lembab dalam penyembuhan luka
  • Berikan balutan semi oklusif (semi tertutup)
Manajemen nyeri
  • Tutupi area terbuka luka untuk melindungi ujung-ujung saraf
  • Gunakan balutan yang dapat menciptakan lingkungan luka lembab (transparan film dressing, hidrogel, foam, alginate dan hidrokoloid)
  • Gunakan balutan yang tidak melekat pada luka
  • Pertahankan dressing dengan menggunakan plester
  • Gunakan produk balutan luka yang tidak perlu sering diganti
Mencegah infeksi
  • Secara berkelanjutan awasi tanda-tanda infeksi; perhatikan adanya infeksi jamur pada lipatan, bila perlu lakukan kultur yang sebelumnya dibersihkan dahulu dengan normal salin
  • Berikan antibacterial atau anti jamur bila diindikasikan
  • Mengurangi bioburden (kumpulan bakteri) infeksi
  • Gunakan balutan yang sesuai untuk manajemen eksudat/cairan luka

KESIMPULAN

Pada prinsipnya, perawatan luka post radioterapi sama dengan perawatan luka umumnya yaitu menciptakan lingkungan luka lembab. Bebeda dengan luka kronis, tujuan dari perawatan luka ini ditujukan pada manajemen gejala dan perawatan paliatif. Kolaborasi dengan perawat spesialis kanker, perawat kemoterapi dan petugas radioterapi akan diperlukan untuk memberikan pencegahan, deteksi dini dan perawatan komplikasi onkologi seperti ekstravasasi, lesi kanker, dan kerusakan kulit akibat radioterapi.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Bryant RA, Nix DP. Acute and chronic wound; current management concepts. 3th ed. St Louis:Mosby Elsevier; 2007

2.    Supriana, N. Terapi Radiasi. [Online]. 2008 [cited 2010, 20 January]. Availabel from; URL http://www.radioterapi-cm.org/index.php?lang=ina&to=mnu_120

3.    Bupa’s Health Information Team. Radiotherapy. 2010 [cited 2010, 20 January]. Availabel from; URL http://www.bupa.co.uk/health-information/directory/r/radiotherapy

4.    Alatas, Z. Efek radiasi pada kulit.Buletin ALARA 1998; 2 (1), 27-31.

About dharmamuliacare

Praktek Perawat Spesialis Perawatan Luka Please contact us, if you have a problem about wound Jln. Gunung Agung No. 166 Denpasar-Bali View all posts by dharmamuliacare

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: