Tag Archives: Permenkes Nomor 148 tahun 2010

Filosofi Tri Hita Karana dan Tat Twam Asi serta Permenkes Nomor 148 Tahun 2010 sebagai Landasan Praktik Mandiri Perawat

“Semoga di hari ini, siapapun yang membaca dalam keadaan sehat dan berbahagia, amin”
PERAWAT, ini salah satu kata yang dulu tidak pernah saya mengenalnya. Tetapi setelah mengenalnya dan menjalaninya selama hampir 10 tahun, saya sangat mencintai profesi ini. Profesi ini begitu mulia dan salah satu profesi kesehatan yang sangat membantu masyarakat. Tidak cukup hanya satu profesi yang bisa menyelesaikan permasalahan kesehatan bagi pasien tetapi diperlukan “teamwork” atau kerjasama antar berbagai multidisplin ilmu. Membaca salah satu blog mengenai praktik mandiri secara tidak langsung ketika saya menyelesaikan tugas etika dan hukum keperawatan dengan penuh komentar negatif walaupun diantaranya ada komentar positif menjadikan tantangan tersendiri bagi saya khususnya dan perawat pada umumnya untuk menunjukkan jati diri profesi perawat. Memang beberapa kritikan pedas dan beberapa kata-kata yang tidak layak di komentar akan membuat emosi, tetapi selayaknya janganlah membalas dengan emosi melainkan ketenangan. Kami yakin dan seyakinnya dalam kepercayaan kami ada salah satu filosofi kehidupan tentang “KARMA” atau Hukum sebab akibat yang sering disampaikan oleh orang tua kita bahwa “Jika benih yang ditanam adalah benih kebaikan maka yang dipanen adalah bunga kebaikan dan begitu sebaliknya”.

Sekilas, saya akan menyampaikan beberapa filosofi yang mendasari kami dalam melakukan praktik keperawatan yang tidak jauh beda dengan filosofi yang ada sesuai dengan kebudayaan kami di Bali. Pertama konsep yang mendasari kami adalah TRI HITA KARANA. Filsafat Tri Hita Karana, yang berarti tiga penyebab keharmonisan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang terdiri dari (1) Parahyangan berarti hubungan baik antara Sang Maha Pencipta (Tuhan) dan mahluk ciptaannya, (2) Pawongan berarti hubungan baik antara manusia dengan manusia, (3) Palemahan berarti hubungan baik antara manusia dengan lingkungan. Konsep Tri Hita Karana bersifat sangat fleksibel dan dapat diterapkan dalam berbagai keberagaman. Selain itu Konsep Tri Hita Karana juga bersifat universal dan mendorong manusia untuk selalu mendapatkan keseimbangan hidup lewat membina hubungan yang baik di ketiga aspek kehidupan (Tuhan, mahluk ciptaan, dan alam semesta). Kemudian konsep kedua filsafat TAT TWAM ASI, yang memiliki arti aku adalah kamu/kita (manusia) seyogyanya sama, baik yang menciptakan maupun yang menjiwai kita (roh). Konsep filsafat Tat Twam Asi ini bahwa kita tidak akan pernah berpikir untuk membedakan-bedakan individu manapun (suku, agama, ras, warna kulit). Perbedaan itu bukanlah alasan untuk terpecah, sama halnya dengan profesi kesehatan yang ada saat ini. Konsep Tat Twam Asi juga mengajarkan kita bahwa semua mahluk memiliki hak yang sama untuk bisa hidup berdampingan satu sama lain.

Kedua konsep tersebut sangat mempengaruhi kami dalam bekerja menjalankan praktik keperawatan. Hal tersebut juga menciptakan motto kami dalam memberikan pelayanan keperawatan dengan cinta kasih dan spiritualitas. Konsep tersebut melandasi semangat kami untuk dapat melakukan perawatan yang terbaik bagi pasien kami rawat khususnya dalam perawatan luka, stoma dan inkontinensia. Pada intinya konsep ini mengajarkan keharmonisan dan cinta kasih, “kau adalah aku”, jika kau menyakiti aku maka sama dengan kau menyakiti diri sendiri. Kurang lebih seperti itulah filosofi kami dalam melakukan perawatan di praktik perawat yang kami jalani saat ini. Merawat pasien adalah sama seperti kita merawat diri kita sendiri ataupun merawat keluarga kita sendiri. Kita semua sama dimata TUHAN, kita semua manusia yang dibekali dengan ahklak, pikiran dan lainnya. Untuk itu, jangan sampai perbedaan di antar profesi kesehatan menjadi celah untuk saling menghujat dan menjatuhkan. Perbedaan inilah yang indah dimana kita bisa bekerjasama saling membantu untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Bukan dengan rasa EGO yang mendominasi menjadi yang terbaik untuk diri sendiri.

Akan tetapi tidak semua orang berpikir seperti ini, selama beberapa jam membaca blog tersebut ternyata banyak orang memiliki persepsi yang sempit mengenai dunia keperawatan. Mudah-mudahan suatu saat nanti ketika orang tersebut sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit baru akan menyadari semua profesi kesehatan penting tidak ada yang lebih mendominasi yang paling bagus atau apapun itu dan bisa melihat bagaimana kunci peran penting seorang PERAWAT. Semua tujuannya adalah bagaimana cara untuk merawat dan memberikan kesembuhan pada orang yang menderita penyakit. Sampai saat ini, kami di praktik mandiri ini tetap bekerjasama dengan dokter umum, dokter spesialis, fisioterapi, ahli gizi dan lainnya. Selama kerjasama kami tidak mengalami kendala apapun bahkan kami saling mendukung dan membantu untuk mencapai kesembuhan pasien karena pada intinya kita saling menghormati, saling menghargai dan selalu tetap komunikasi untuk kesembuhan pasien yang kami rawat bersama.

Melihat fenomena yang ada dan beberapa kritik-kritik yang ada tentang praktik mandiri keperawatan, saya berusaha sedikit mengulas kembali tentang peraturan yang dikeluarkan pemerintah tentang izin dan penyelenggaraan praktek keperawatan yang saat ini menjadi dasar kami untuk berdiri. Saat ini praktek mandiri keperawatan juga sudah berkembang dengan pesat dan hampir diseluruh Indonesia sudah berdiri praktik keperawatan yang telah memenuhi syarat dan ketentuan dari Permenkes No. 148 tahun 2010 yang mendapatkan SIPP (Surat Ijin Praktek Perawat). Khususnya di Bali sudah banyak berdiri praktek mandiri perawat yang tersebar diseluruh kabupaten. Uraian singkat ini mudah-mudahan dapat mengingatkan kita kembali tentang penyelenggaraan praktek dan memberikan semangat bagi rekan sejawat yang akan merintis praktek mandiri keperawatan.

13

Gambar 1. Tempat praktek mandiri perawat berkelompok/bersama kami di Denpasar-Bali

Peraturan Menteri Kesehatan republic Indonesia Nomor. HK.02.02/MENKES/148/I/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik perawat. Permenkes ini dikeluarkan menimbang dari pasal 23 ayat (50 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Dalam peraturan menteri yang dimaksud perawat dan bagaimana ketentuan umum praktik perawat terdapat pada BAB I Ketentuan Umum Pasal 1 sebagai berikut (beberapa poin penting saja saya kutip):

“1. Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan perawat baik di dalam maupun luar negeri sesuai dengan peraturan perundang-undangan”
“3. Surat Izin Praktik Perawat yang selanjutnya disingkat SIPP adalah bukti tertulis yang diberikan kepada perawat untuk melakukan praktik keperawatan secara perorangan dan atau berkelompok”
“4. Standar adalah pedoman yang harus dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi yang meliputi standar pelayanan, standar profesi dan satndar prosedur operasional”
“6. Obat bebas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna hijau yang dapat diperoleh tanpa resep dokter”
“7. Obat bebas terbatas adalah obat yang berlogo bulatan berwarna biru yang dapat diperoleh tanpa resep dokter”

Sesuai ketentuan peraturan tersebut. Kita perawat dapat mendirikan praktik mandiri perawat dan memberikan pelayanan sesuai standard dan ketentuan yang berlaku. Dalam pasal ini juga mengatur bahwa perawat dapat memberikan obat bebas (bulatan hijau) dan bebas terbatas (bulatan biru). Tapi di praktik keperawatan kami, pemberian terapi berupa obat yang dikonsumsi per oral (melalui mulut) tidak kami berikan, kami hanya memberikan balutan-balutan luka atau topikal terapi yang sudah sesuai dengan kompetensi yang kita miliki sebagai perawat spesialis luka sesuai standar di Indonesia dan World Council Enterostomal Therapy Nursing (WCETN). Jika kami memerlukan terapi atau obat-obatan per oral maka kami bekerjasama dengan dokter umum maupun dokter spesialis sesuai dengan kewenangan dan kebutuhan pasien. Bagaiamana menurut Anda, pasti indah jika kita bisa bekerjasama untuk kesembuhan pasien yang kita rawat.

Berikut Pada BAB II Perizinan pasal 2 menyatakan bahwa;

“Perawat dapat menjalankan praktik keperawatan pada fasilitas pelayanan kesehatan meliputi fasilitas pelayanan kesehatan di luar praktik mandiri dan atau praktik mandiri.
Perawat yang menjalankan praktik mandiri minimal berpendidikan Diploma III (D III) Keperawatan”.

Pasal ini, memberikan informasi pada kita dapat menjalankan praktik di fasilitas pelayanan kesehatan dan minimal syarat pendidikan perawat menjalankan praktik mandi perawat adalah D III Keperawatan. Pada pasal 3, 4 dan 5 akan dibahas kewajiban perawat memiliki SIPP dan persyaratannya untuk menjalankan praktik mandiri perawat. Syarat SIPP yang diwajibkan perawat yang akan menjalankan praktik mandiri perawat, sebagai berikut;

“Pasal 5; untuk memperoleh SIPP, perawat harus mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah Kabupaten/Kota dengan melampirkan;
a.Fotokopi Surat Tanda registrasi (STR) yang masih berlaku dan dilegalisir
b.Surat keterangan sehat fisik dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik
c.Surat pernyataan memiliki tempat praktik
d.Pas foto berwarna terbaru ukuran 4×6 cm sebanyak 3 (tiga) lembar
e.Rekomendasi dari organisasi profesi (PPNI daerah)
Pengajuan ini hanya pada satu tempat praktik”

Praktik mandiri perawat saat ini juga diperbolehkan memasang papan praktek yang sebelumnya tidak ada pada Permenkes 1239 Tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat. Pada pasal 6 menyebutkan bahwa “Dalam menjalankan praktik mandiri, perawat wajib memasang papan nama praktik keperawatan”. Adapun petunjuk teknik dan pelaksanaan pembuatan papan nama praktik sebagai berikut;
•Bertuliskan “Praktik Perawat”
•Ukuran 80cm x 60cm
•Dituliskan nama yang berpraktek dan gelar
•Nomor ijin praktek (SIPP)
•Memasang logo PPNI

Hal yang palig krusial dalam pengaturan penyelenggaraan praktik mandiri perawat ada pada bab III tentang penyelenggaraan praktik. Berikut saya kutip dari aslinya terkait dengan penyelenggaraan pratik perawat pada Bab III pasal 8;

“(1) Praktik keperawatan dilaksanakan pada fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, tingkat kedua dan tingkat ketiga
(2) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (10 ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
(3) Praktik keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui kegiatan
a. pelaksanaan asuhan keperawatan
b. pelaksaanaan upaya promotif, preventif, pemulihan dan pemberdayaan masyarakat, dan;
c. pelaksanaan tindakan keperawatan komplementer
(4) Asuhan keperawatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) huruf a meliputi pengkajian, penetapan diagnose keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi keperawatan
(5) Implementasi keperawatan sebagaimana maksud ayat (4) meliputi penerapan perencanaan dan pelaksanaan tindakan keperawatan
(6) Tindakan keperawatan sebagaimana maksud pada ayat (5) meliputi pelaksanaan prosedur keperawatan, observasi keperawatan, pendidikan dan konseling kesehatan
(7) Perawat dalam menjalankan asuhan keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat memberikan obat bebas dan atau obat bebas terbatas”.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada pasal tersebut, perawatan luka yang kami lakukan adalah salah satu prosedur keperawatan atau intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan oleh perawat. Dalam standar spesialis perawatan luka kami diperkenankan memberikan balutan-balutan luka dan dapat digunakan bersama tindakan keperawatan komplemeter (penggunaan herbal ataupun terapi yang terkait untuk membantu dalam proses kesembuhan pasien). Setiap tindakan yang dilakukan sudah tentu harus diperdalam mengikuti pelatihan khusus yang diakui oleh Departemen Kesehatan RI khususnya sehingga  sertifikat kompetensi yang dimiliki diakui negara.

Pada Bab III pasal 9 mengingatkan kita sebagai perawat untuk tetap melakukan praktik sesui dengan kewenangan yang kita miliki. Seperti yang disampaikan sebelumnya, menjalankan praktik sesuai kompetensi yang kita miliki. Dalam situasi kegawatdaruratan maka perawat dapat melakukan tindakan diluar kewenangannya yang diatur dalam pasal 10 dengan mempertimbangkan kompetensi, tingkat kedaruratan dan kemungkinan untuk dirujuk. Hak dan Kewajiban perawat juga diatur dalam Permenkes No. 148 tahun 2010, sebagai berikut;

“Pasal 11; dalam melaksanakan praktik, perawat mempunyai hak
a.Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik keperawatan sesuai standar
b.Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan atau keluarganya
c.Melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi
d.Menerima imbalan jasa profesi dan
e.Memperoleh jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang berkaitan dengan tugas
Pasal 12; dalam melaksanakan praktik, perawat wajib untuk;
a.Menghormati hak pasien
b.Melakukan rujukan
c.Menyimpan rahasia dengan peraturan perundang-undangan
d.Memberikan informasi tentang masalah kesehatan pasien/klien dan pelayanan yang dibutuhkan
e.Meminta persetujuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan
f.Melakukan pencatatan asuhan keperawatan secara sistematik dan mematuhi standar”.

Berdasarkan pasal yang diuraikan diatas menjadi dasar kita dalam menjalankan praktik mandiri perawat yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada pasal 12 ayat (3) menyebutkan bahwa “Perawat dalam menjalankan praktik wajib membantu program pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat”. Walaupun sudah dikeluarkan Permenkes no. 148 tahun 2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik perawat, Undang-undang keperawatan tetap diperlukan untuk memberikan kepastian perlindungan hukum bagi perawat yang menjalankan praktik keperawatan. Semoga undang-undang tersebut bisa memberikan gambaran yang lebih baik dan memberikan perlindungan hukum bagi perawat.

Demikian uraian tentang landasan kami menjalankan praktik mandiri perawat yang selaian berlandasakan filosofi kebudayaan dimana kami berada juga tetap berdasarkan landasan hukum Permenkes No. 148 tahun 2010. Selain bekerjasama dengan rekan-rekan perawat yang menjalankan praktik mandiri perawat di seluruh Indonesia, kami juga rutin mengadakan diskusi dan berbagai bersama dengan beberapa rekan-rekan perawat, fisioterapi dan dokter dari Australia yang telah bekerjasama dengan kami dalam memberikan donasi bagi pasien-pasien yang membutuhkan bantuan khususnya dalam perawatan luka, stoma dan inkontinensia. Kembali lagi semuanya hanya untuk dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyrakat. Tidak ada lagi kata-kata untuk saling menjatuhkan dan saling menyalahkan dalam hal ini, sebagai profesi kesehatan sebaiknya kita saling bahu membahu dalam membantu meningkatan derajat kesehatan masyarakat. Semoga generasi penerus perawat berikutnya memiliki kemampuan lebih baik dalam meningkatkan profesi keperawatan ini. Tidak hanya berbicara atau berkata-kata tapi kami hanya lakukan yang terbaik untuk itu dan kami perawat Indonesia siap merawat Indonesia.

Hidup dalam keharmonisan akan lebih baik dan semoga bermanfaat

Salam Perawat Indonesia
HIDUP PERAWAT INDONESIA
Januari, 2013

Untuk download Permenkes No. 148 tahun 2010 dalam klik link berikut dari PPNI: http://downloads.ziddu.com/downloadfile/19915875/PMKTTGIzinDanPenyelenggaraanPraktikPerawat.pdf.html
Untuk mengetahui kode etik keperawatan Indonesia, standar praktek, standar kompetensi dan lainnya dapat klik link berikut: http://www.inna-ppni.or.id/innappni/mntop-kode-etik.html


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.